Selasa, 26 Agustus 2014

Pendapat Matteo Guerinoni soal Ducati Pilih Kelas "Open"

// // Leave a Comment
Jakarta, KompasOtomotif – Keputusan Ducati Corse “lengser” dari tim pabrikan ke kelas “open” menuai banyak opini. Satu sisi, strategi yang diterapkan General Manager Ducati Corse, Gigi Dall’Igna itu dianggap paling realistis untuk mengejar juara dunia. Dari segi lain, ide ini merupakan salah satu cara agar manufaktur asal Italia bisa menyamai level dua pabrikan besar Honda dan Yamaha. Namun pengamat dan komentator program acara MotoGP Tanah Air, Matteo Guerinoni berpendapat, semua adalah hasil rekayasa CEO Dorna Sports, Carmelo Ezpeleta, meramu kemasan MotoGP agar lebih menarik.
“Menurut saya Ezpeleta itu pintar sekali, dia ingin memecah dominasi tim pabrikan sekaligus membuka peluang lebih banyak tim masuk ke MotoGP lewat kelas ‘open’, dan itu memang akan terjadi,” terang mantan juara nasional superbike 2010 itu kepada KompasOtomotif, di Jakarta, Kamis (6/3/2014).
Contohnya, lanjut Matteo, pada 2015 tim Suzuki kembali ke MotoGP, diikuti Aprilia pada 2016. Tim lain seperti, MV Agusta yang sudah turun di Wolrd Superbike dan BMW akan tertarik ikut meramaikan. “Semua tim itu akan masuk di kelas ‘open’ karena itu memang tujuannya, tentu akan sangat menarik buat penonton. Gap teknologi sudah tidak ada lagi, karena software disediakan Dorna,” jelas Matteo.
DucatiKeputusan Ducati “turun tahta” tidak mungkin tanpa embel-embel profit dari Dorna, meski diharamkan mengutak-utik Electronic Control Unit (ECU). Matteo mengindikasikan ada “permainan” yang memiliki korelasi dengan isu ECU Magneti Marelli (dipakai seluruh tim “open”) dikembangkan oleh Ducati Motor Holding.
“Menurut saya pribadi, Ezpeleta serius mau pecahkan dominasi, tidak mungkin Ducati pindah tanpa dijanjikan sesuatu oleh Dorna untuk membantu Ducati satu tingkatan dengan Honda dan Yamaha,” beber joki Ducati di gelaran Indospeed Race series 2011 kelas Supersport 600 cc itu.
 Selain keuntungan 12 mesin dalam satu musim (tim pabrikan hanya 5 mesin), hal lain yang bisa mendongkrak kemajuan Ducati lebih pesat, yaitu kesempatan mengembangkan mesin untuk menghadapi musim berikutnya. Di kelas factory mesin di-freeze alias tidak boleh disentuh sama sekali.
Keuntungan lain dari jumlah bahan bakar 4 liter lebih banyak dari tim pabrikan (20 liter), artinya suplai power sepeda motor Ducati Desmosedici GP14 bisa lebih halus dan membantu pebalap Andrea Dovizioso dan Cal Crutchclow memacu tunggangannya. Selain itu masih ada benefit pemakaian kompon ban belakang lebih lunak di sesi kualifikasi, Itu bisa memangkas catatan waktu hingga 0,5 detik.
“Ducati sudah ketinggalan teknologi dari Honda dan Yamaha. Perlu biaya sangat besar untuk mengembangkan ECU dan elektronik. Tim lain tidak punya dana investasi seperti kedua pabrikan tersebut untuk menjadi juara. Ducati memang lebih baik pindah,” tukas Matteo. 

0 komentar:

Poskan Komentar